Umumnya pembicaraan mengenai
politik memang di dominasi
oleh para orang tua. Mereka dianggap telah matang
dalam hal ini
dan dianggap yang paling
pantas membicarakan masalah ini. Bahkan
ketika seorang remaja hendak
ikut mengkritisi masalah perpolitikan yang tengah carut-mar
ut
seakan-akan tidak dianggap. Masa remaja dianggap sebagai masa labil dimana seorang
remaja dianggap sebagai manusia yang pragmatis.
Yang belum mampu
untuk bersikap kritis terhadap
situasi perpolitikan di negara
ini.
Dalam dunia pendidikan, mulai dari
SD para siswa diberikan
dasar-dasar pengetahuan tentang negara mereka.
Dan menginjak usia remaja
di SMP, siswa diajak
untuk berfikir lebih kritis mengenai
masalah perpolitikan. Mulai dari
teori-teori tentang politik hingga berbagai
data di berbagai
negara. Namun sayangnya
pengajaran yang terlalu
lunak dan terkesan
digampangkan menjadikan siswa juga
enggan kritis menyikapi
masalah perpolitikan. Meskipun pada dasarnya akal mereka
sudah mampu menangkapnya.
Itulah sebab kebanyakan siswa SMP
masih enggan membahas
politik. Secara tidak
langsung pengajaran yang sering
lunak membuntungkan karakter kritis pelajar. Menginjak masa remaja
yang matang yakni
SMA, maka para siswa
disuguhkan seabrek materi tentang
perpolitikan yang justru
jika dibandingkan dengan para
dewasa yang tidak
menerima materi ini,
maka seorang remaja SMA
akan lebih kritis
dari mereka. Meskipun siswa tidak
turun langsung ke lapangan
merasakan dunia perpolitikan, namun setidaknya
kebanyakan sangat tahu
akan keadaan perpolitikan negara ini
yang “kumuh”, lebih kumuh
dari jani-janji yang tak
terealisasi.
Hal ini menunjukkan bahwa remaja
mempunyai potensi yang besar
dalam masalah perpolitikan. Tak hanya dari
teori yang di
dapatkan di sekolahan.
Namun praktek-praktek dalam organisasi yang ada di sekolahan juga
sangat mendukung pola pikir remaja dalam menghadapi situasi politik. Contohnya dalam OSIS,
disini siswa diberikan
kekuasaan untuk ikut
membantu dalam berkreasi membangun peradaban siswa itu
sendiri khususnya dalam hal
non pelajaran.
Jika kita lihat fakta
di lapangan, para pejabat
yang terkena skandal kerapkali adalah mereka yang
sudah dewasa dalam
segi fikiran ataupun pengalaman.
Banyak sekali remaja berprestasi
di negri ini, namun
kenapa mereka tidak
berminat ikut campur dalam
perpolitikan negri ini
adalah karena status
mereka yang masih
remaja yang menjadikannya
dilihat sebelah mata seberapapun
banyak prestasinya. Dan lebih
dari itu, para
remaja banyak yang
enggan terlibat juga karena
dunia politik mempunyai aura yang
mengerikan bagi mereka.
Korupsi, Nepotisme, janji-janji palsu serta berbagai
skandal para pejabat
pemerintahan sendirilah yang menjadikan
para remja yang
tidak ingin hidupnya tercebur dalam “lembah
hitam” maka mereka memilih
menjauh dari lembah hitam itu.
Maka tinggallah penerus yang jiwanya
sama atau hampir
sama dari generasi
sebelumnya yang mau
meneruskan perpolitikan yang kumuh
ini. Dan akhirnya
terjagalah budaya politik yang kumuh itu hingga
kini. Maka seharusnya
mata dibuk untuk melihat realita potensi remaja yang berkualitas untuk dibuka kesempatan
mereka untuk memperbaharui
sistem politik yang sudah
berjamuran ini. Diakui atau
tidak, remaja adalah
bagai pisau tajam
yang tengah diasah
dengan segala potensi ketajamannya untuk ikut
memangkas sistem yang carut-marut.
Jika kita lihat
kegiatan-kegiatan yang dipanitiai para remaja,
maka acara tersebut
akan terasa seru dan penuh semangat
karena semangat mereka ikut mengalir bersama kegiatan tersebut. Dengan berbekal
segudang kreatifitas menjadikan para remaja
fresh dalam setiap
pemikirannya, meski terkadang juga tak
efektif ide-idenya. Setidaknya ketika para generasi
muda bangsa ikut memperhatikan bangsa maka mereka
ikut menyumbang gagasan untuk memperbaiki
bangsanya.
Zaman dahulu ketika generasi
Islam tengah jaya ditengah kepemimpinan Muhammad Shollallaahu ‘alayhi wasallam, seringkali yang dijadikan
komandan militer adalah para pemuda.
Harus diakui, jiwa anak
muda yang tengah
berkobar akan mengalahkan
segala takut. Tak
hanya itu, gagasan
anak mudapun sangat diterima
karena memang akhlak
mereka yang sudah
terbiasa berada dilingkungan
mulia menjadikan gagasan-gagasan merekapun nyambung.
Tidak bisa dipungkiri dalam setiap tahunnya Negeri ini melahirkan para muda-mudi
cendikia yang tak sedikit.
Namun karena secara
tak langsung gagasan-gagasan mereka terbatasi
oleh budaya yang mengakar,
menjadikan mereka hanya bisa
berteori saja. Bagaimana
tidak, budaya menjadikan
mereka kebanyakan memahami usia muda
adalah masa dimana untuk
kesenangan semata. Dan bagi yang
masih nekat berbicara
hal-hal yang dibicarakan orang tua
maka sanksi pengucilanpun
otomatis aktif.
Itulah yang menjadika para kawula muda
semakin acuh dengan
bangsanya. Padahal suatu bangsa
bertumpu pada generasi penerusnya
Dan sebagai remaja yang
ingin dapat menumpahkan
ide-ide cemerlangnya serta ide-ide
tersebut diterima kita harus bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu. Jangan
beralasan usia sehingga
enggan untuk mempelajari
hal-hal vital. Justru
hal tersebut yang menjadikan
sosok remaja menjadi
berguna kelak. Karena
ketika masa-masa produktifnya diberdayakan maka kelak
pada usia tuanya
bisa kita rasakan
hasilnya.

Posting Komentar